Minggu, 14 November 2010

GANGGUAN MOOD


Mood adalah kondisi perasaan yang etrus ada yang mewarnai kehidupan psikologis kita.  Mood bisa berupa perasaan sedih, marah atau pun depresi.   Perasaan tersebut normal jika terjadi pada waktu tertentu dan tidak berkepanjangan. Jika bersifat continue maka  orang  tersebut mungkin mengalami gangguan mood.

Tipe-Tipe Gangguan Mood

Ada beberapa tipe-tipe gangguan mood yaitu
1. gangguan depresi :   
a. gangguan depresi mayor
terjadi satu atau lebih periode atau episode depresi ( disebut episode depresi mayor) tanpa ada riwayat terjadinya episode manik atau hipomanik alami. Seseorang dapat mengalami  satu episode  depresi mayor, yang diikuti dengan kembalinya mereka  pada keadaan fungsional  yang biasa. Umumnya orang yang pernah mengalami depresi mayor  dapat kambuh lagi di antara periode normal atau kemungkinan mengalami hendaya pada fungsi-fungsi tertentu.
                       
b. gangguan  distimik
pola depresi ringan (tetapi kemungkinan saja menjadi mood yang menyulitkan pada anak-anak atau remaja ) yang terjadi dalam satu rentang waktu—pada orang dewasa biasanya dalam beberapa tahun


2. gangguan perubahan mood  :
a. gangguan bipolar
gangguan yang disertai satu atau lebih episode manik atau hipomanik (episode mood yang  melambung dan hiperaktivitas dimana penilaian  dan tingkah laku mengalami hendaya). Episode manik  atau hipomanik sering digantikan dengan episode  depresi mayor dengan jeda periode mood yang normal

b. ganguan siklotimik
gangguan mood kronis meliputi beberapa  episode hipomanik (episode yang disertai dengan cirri-ciri manik pada tingkat keparahan yang  lebih rendah daripada episode manik) dan beberapa periode mood tertekan atau hilangnya minat atau kesenangan pada  kegiatan-kegiatan, tetapi tingkat keparahannya tidak sampai  memenuhi criteria sebagai episode depresi mayor (sumber DSM-IV- TR) (APA,2000)


 taken from




Ciri Umum Depresi

1. perubahan pada kondisi emosional
perubahan  pada mood (periode terus menerus dri perasaan terpuruk, depresi, sedih atau muram penuh air mata atau menangis)
2. perubahan dalam motivasi
Perasaan tidak termotivasi  atau memiliki kesulitan untuk memulai (kegiatan) dipagi hari atau bahkan sulit untuk bangun dari tempat tidur
            Menurunnya partisipasi  sosial atau minat aktivitas sosial
            Kehilangan kenikmatan atau  minat terhadap aktivitas yang menyenangkan
            Menrunnya minat pada seks
            Gagal berespon pada pujian atau reward
3 perubahan  dalam fungsi dan  perilaku motorik
            Bergerak dan berbicara dengan lebih pelan daripada biasanya
Perubahan dalam kebiasaan tidur (tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit, bangun lebih awal dari biasanya da  merasa sulit untuk tidur kembali dipagi buta—disebut mudah terbangun dipagi buta)
Perubahan dalam selera makan (terlalu banyak atau terlalu sedikit)
Perubahan berat badan  (bertambah atau kehilangan berat adan)
Berfungsi kurang efektif I tempat kerja atau disekolah
4. perubahan kognitif
            Kesulitan konsentrasi atau berpikir jernih
            Berpikir  negative mengenai diri sendiri dan masa depan
            Perasaan  bersalah atau menyesal atas kesalahan dimasa lalu
            Kurangnya self-esteem atau kurang adekuat
            Berpikir akan kematian atau bunuh diri


Depresi Mayor
Suatu episode depresi mayor ditandai dengan munculnya lima atau lebih cirri-ciri atau symptom dibawah ini selama  suatu periode 2 minggu  yang mencerminkan fungsi  sebelumnya. . paling tidak  satu ciriciri tersebut harus melibatkan (1) mood yang depresi atau (2) kehilangan minat atau kesenangan dalam beraktivitas. Lebih lagi  symptom-simptom tersebut harus  menyebabkan  baik tingkat distress yang signifikan secara klinis ataupun hendaya paling tidak dalam satu area penting dari fungsi, seperti fungsi sosial  atau pekerjaan dan harus bukan akibat penggunaan langsung dari obat-obatan atau medikasi dari kondis medis ataupun dari gangguan psikologis lain

  1. mood yang depresi hamper  sepanjang hari dan hamper setiap hari dapat berupa mood mudah tersinggung pada anak-anak atau remaja
  2. penurunan tingkat kesenangan atau minat secara drastic dalam semua atau hamper semua aktivitas, hamper tiap hari, hamper sepanjang hari
  3. suatu kehilangan atau penambahan berat badan yang signifikan (5% lebih dari berat tubuh dalam sebulan), tanpa ada upaya apapun untuk berdiet, atau suatu peningkatan atau penurunan selera makan
  4. setiap hari (atau hamper tiap hari) mengalami insomnia atau hipersomnia 9tidur berlebih)
  5. agitasi yang berlebihan atau melambatnya respon gerak tiap hari
  6. perasaan lelah atau  kehilangan energi hamper setiap hari
  7. perasaan  tidak berharga atau salah tempat atau  rasa bersaah yang berlebihan dan tidak tepat yang terjadi  hamper tiap waktu
  8. berkurangnya kemampuan konsentrasi atau berpikir jernih atau membuat keputusan setiap hari
  9. pikiran yang muncul berulang tentang kematian atau bunuh diri tanpa suatu rencana yang spesifik atau munculnya suatu percobaan bunuh diri atau rencana spesifik melakukan bunuh diri
  10. sumber : adaptasi DSM IV TR (APA 2000)

Faktor-Faktor Resiko Dalam Depresi Mayor
Factor yang meningkatkan resiko seseorang  untuk mengembangkan depresi mayor meliputi usia (onset atau kemunculan awal lebih umum terjadi pada dewasa muda daripada dewasa yang lebih tua); status sosioekonomi dan status pernikahan .

Gangguan Distimik
Orang dengan gangguan distimik  merasakan “spirit yang buruk” atau “keterpurukan”  sepanjang waktu namun mereka tak mengalami depresi  yang parah seperti yang dialami orang selama depresi mayor.  Gangguan distimik cenderung  ringan dan kronis biasanya berlangsung selama beberapa tahun (Klein, dkk, 2000b). perasaan depresi dan kesulitan sosial terus ada bahkan setelah  orang tersebut menampakkan kesembuhan (USDHHS, 1999a).

Gangguan Bipolar
Orang dengan gangguan bipolar mengalami roller coaster emosional berayun dari satu ketinggian kegiranan  ke kedalaman depresi  tanpa adanya penyebab eksternal. Episode pertama dapat berupa manik atau depresi. Episode manik biasanya bertahan beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan umumya  lebih singkat durasinya dan berakhir secara tiba-tiba daripada eisode  depresi mayor.
            DSM  membedakan 2 tipe umum gangguan bipolar,  gangguan bipolar 1 dan gangguan bipolar 2 (APA,2000) pada gangguan bipolar I, seseorang paling tidak mengalami  satu episode manik penuh.  Yaitu individu mengalami  perubahan mood antara rasa girang dan depresi diselingi  periode antara mood normal.  Gangguan bipolar II  diasosiasikan dengan gangguan mood yang lebih ringan yaitu seseorang mengalami  satu atau lebih  epiode mayor depresi dan paling tidak satu kali hipomanik.  Namun tidak mengalami satu episode manik secara penuh .

Episode manik
Episode manik atau periode  maniak biasanya muncul secara tiba-tibamenumpulkan kekuatan  dalam beberapa hari. Selama satu  episode manik orang akan mengalami elevasi atau ekspansi mood yang tiba-tiba dan merasakan kegembiraan, euphoria atau optimisme yang tidak biasa.
Orang yang mengalam sebuah episode atau fase maniak merasa bersemangat dan akan mengolok orang lain dengan memberikan lelucon yang keterlaluan,   menjadi argumentative terkadang bertindak jauh dengan merusak barang-barang.  Berbicara cenderung  sangat cepat (dengan pembicaraan yang penuh tekanan (pressure speech), sehinga orang lain sulit menyela mereka. 

Gangguan Siklotimik
Yaitu gangguan yang  ditandai perubahan mood ringan paling tidak selama 2 tahun (1 tahun untuk anak-anak dan remaja). Gangguan siklotimik  biasanya bermula pada alhir masa remaja dan awal masa dewasa dan  berlangsung selama bertahun-tahun.


Perspektif Teoritis Tentang Gangguan Mood

1. Teori psikodimaika
            Freud dan  pengikutnya meyakini bahwa depresi mewakili kemarahan yang diarahkan kedalam diri sendiri dan bukan kepada orang-orang yang dikasihi. Rasa marah dapat diarahkan kepada self setelah mengalami kehilangan yang sebenarnya atau ancaman kehilangan dari orang-oang yang dianggap penting.
            Freud percaya bahwa  berduka (mourning) atau rasa berduka yang normal adalah proses yang sehat karena dengan duka akhirnya seseorang dapat melepaskan diri secara psikologis dari seseorang yang  hilang karena kematian, perpisahan, perceraian dan alas an lain. Namun rasa duka yang patologis idak mendukung perpisahan yang sehat.  Malah akan menumpuk depresi yang  tak berkesudahan.  Rasa duka yang patologis  cenderung   terjadi pada seseorang yang memiliki perasaan  ambivalen (ambivalent)  yang kuat—kombinasi perasaan positif (cinta) dan  negative (marah, permusuhan)—terhadap orang yang telah pergi  atau ditakutkan kepergiannya.
            Menurut psikodinamika, gangguan bipolar mewakili dominasi berubah-ubah dari pribadi individu antara ego (diri sendiri) dengan super ego (sisi moral dari diri). Dalam fase depresi, superego lebih dominant memproduksi kesadaran yang berlebhan atas kesalahan-kesalahan dan membanjiri diri dengan  perasaan bersalah dan ketidak berhargaan. Setelah beberapa saat ego muncul kembali  dan mengambil alih supremasi memproduksi perasaan girang dan self-confidence yangmenandai fase manik. Ekshibisi ego yang berlebihan akan memicu kembalinya rasa bersalah dan kembali menenggelamkan individu dalam depresi.

2. Teori Humanistik
Orang menjadi depresi  saat mereka tidak dapat mengisi keberadaan mereka dengan makna dan  tidak dapat membuat  pilihan-pilihan yang autentik yang dapat menghasilkan self-fullfillment (pemenuhan diri). Kemudian dunia dianggap sebagai tempat yang menjemukan. Pencarian orang terhadap makna  memberi warna dan arti kehidupan bagi kehidupan mereka.  Perasan bersalah dapat timbul  saat orang percaya bahwa mereka tidak membangkitkan potensi-potensi mereka. Psikolog humanistic menantang kita untuk  memperhatikan kehidupan kita secara mendalam.
Teoritikus  humanistic  berfokus pada hilangnya self-esteem (harga-diri/ rasa keberhargaan atas diri/ penghargaan terhadap diri) yang dapat muncul saat orang kehilangan teman atau anggota keluarga atau mengalami kemunduran atau kehilangan pekerjaan. Kita cenderung mengembangkan  identitas personal atau rasa self-worth (rasa kepantasan diri)  dengan  peran sosial kita sebagai orang tua, pasangan, pelajar atau pekerja.  Bila identitas peran hilang  melalui kehilangan pasangan, pekerjaab,  anak-anak yang pergi kuliah, sense of purpose (arah tujuan) dan self-worth dapat terguncang.  Depresi adalah konsekuensi yang sering terjadi dari kehilangan tersebut.

3. Teori Belajar
Teoritikus belajar cenderung  memikirkan factor situasional  yang menyebabkan adanya  gangguan mood seperti kehilangan reinforcement positif  ( semacam reward/ timbal balik  positif yang mendorong seseorang berlaku tertentu).
            Peter Lewinson (1974) menyatakab  bahwa depresi dihasilkan dari ketidakseimbangan  antara output perilaku dan input reinforcement  yang berasal dai  lingkungan. Kurangnya  reinforcement  untuk usaha seseorang dapat menurunkan motivasi dan  menyebabkan perasaan depresi. Lingkaran setan dapat terjadi : penarikan  diri dan ketidak arifan  dari lingkungan sosial menghilangkan  kesempatan untuk mendapatkan reinforcement dan reinforcemen yang kurang akan memperburuk penarikan diri.  Tingkat aktivitas rendah  yang menjadi cirri depresi juga dapat  menjadi sumber dari hasil sekunder  atau reinforcement sekunder.

4. Teori Interaksi
Berdasarkan pendapat james coyne (1976) menyatakn bahwa  penyesuaian pada kehidupan bersama dengan orang  yang depresi  dapat sangat menekan  sehingga makin lama  reinforcement  yang diberikan pasangan atau anggota keluarga  pada orang depresi makin berkurang.
            Teori interaksi didasarkan pada  konsep interaksi  timbale balik.  Perilaku seseorang mempengaruhi  dan sebaliknya dipengaruhi orang lain.  Teori ini menyatakan orang yang  mudah depresi beraksi terhadap stress dengan menuntut diberi keyakinan dan dukungan sosial yang lebih besar.
            Bukti-bukti  menunjukkan bahwa orang yang ddepresi cenderung menghadapi penolakan dalam hubungan jangka panjang (Marcus dan Nardone,1992). Anggota keluarga dapat menyadari  betapa  penuh tekanan upaya menyesuaikan diri dengan orang yang depresi.
            Dari semua bukti  mendukung keyakinan Coyne bagwa orang yang menderia depresi memperoleh  penolakan dari orang lain, namun masih terdapat bukti yang  kurang untuk menunjukkan bukti  bahwa penolakan dilandasi  emosi negative (marah dan jengkel)  yang ditimbulkan  oleh orang yang depresi  dalam diri orang lain (segrin dan Dillard,1992). Dilain pihak banyak  literature yang menyatakan  bahwa orang yang depresi kurang memiliki keterampilan  sosial yang efektif, yan dapat menjadi penyebab dari  fakta bahwa orang lain sering menolak mereka (Segrin dan  Abramsom,1994). Mereka cenderung tak bertanggung jawab , tidak melibatkan diri dan bahkan tidak sopan  saat berinteraksi dengan orang  lain.




5. Teori kognitf
Teori  Kognitif Aaron  Beck
            Menghubungkan antara pengembangan depresi dengan  adopsi dari cara berpikrir yang bias atau terdistorasi  secara  negative diawal kehidupan—segitiga kognitif depresi

Segitiga Kognitif Depresi
1. Pandangan Negatif tentang  Diri sendiri
            Memandang diri sendiri  sebagai tak berharga, penuh kekurangan, tidak adekuat
, tidak dapat dicintai, dan sebagai kurang keterampilan yang dibutuhkan untuk mencapai kebahagiaan
2. Pandangan Negatif terhadap lingkungan
Memandang lingkungan sebagai memaksa tuntutan yang berlebihan dan atau memberikan hambatan yang tidak mungkin diaasi yang terus menerus menyebabkan  kegagalan dan kehilangan.
3. Pandangan negative terhadap masa depan
Memandang masa depan  sebagai tak ada harapan dan meyakini bahwa dirinya tidak memiliki kekuatan untuk mengubah  hal-hal menjadi lebih baik. Harapan oran tersebut terhadap masa depan hanyalah kegagalan dan kesedihan yang berlanjut serta kesulitan uang tidak pernah usai.

Beck memandang  konsep negative mengenai  self di dunia  sebagai cetakan mental  atau skema-skema kognitif yang diadopsi  saat masa kanak-kanak  atas dasri pengalaman belajar  awal kanak-kanak.  Anak-anak dapat  menemukan bahwa tiada  satu apapun yang mereka lakukan cukup baik  sehingga dapat menyenangkan orang tua dan guru mereka.  Sehingga mereka menganggap diri sebagai orang yang tidak kompeten dan memandang suram prospek masa depan mereka.  Keyakinan-keyakinan tersebut akan membuat mereka lebih sensitive  dikehidupan selanjutnya sehingga menginterpretasikan  kegagalan atau kekecewaan sebagai refleksi  sesuatu yang pada dasarnnya  salah atau tidak adekuat menegnai diri mereka sendiri. Kekecewaan dan  kegagalan  pribadi menjadi “dibesar-besarkan melampaui proporsinya”  bahkan kekecewaan kecil  dapat menjadi hempasan yang merusak  atau kekalahan total yang dapat menyebabkan depresi.

6. Teori Ketidakberdayaan (Atribusional) Yang Dipelajari
            Orang menjadi depresi karena ia  belajar memandang dirinya sendiri sebagai tidak berdaya dalam mengontrol reinforcement-reinforcement  dilingkungannya—atau untuk mengubah hidup menjadi lebih baik.
            Selingman (1975,1991) menyatakan bahwa sejumlah bentuk depresi pada manusia mungkin berasal dari pemaparan terhadap situasi yang tampaknya tidak dapat  dikontrol.  Selingman dan kolega-koleganya mengubah teori  ketidakberdayaan dalam  kerangka konsep psikologi sosial atas gaya atribusional. Gaya atribusional  adalah suatu gaya personal  dalam menjelaskan sesuatu. Saat gagal atau kecewa kita  menjelaskan dalam berbagai cara  yang memiliki berbagai karakteristik.  Kita dapat menyalahkan diri sendiri (atribusi internal) atau menyalahkan situasi yang  kita hadapi (atribusi eksternal). Kita dapat melihat  pengalaman buruk sebagai kejadian yang melekat dengan karakteristik pribadi  (atribusi stabil) atau peristiwa yang terpisah (Atribusi tak stabil). Kita bisa melihat dari bukti masalah yang luas (atribusi global) atau sebagai bukti suatu kelemahan tertentu yang terbatas (atribusi spesifik). Berdasarkan keterangan atas diformulasikan lagi teori tersebut dan  meyakini bahwa orang yang  menjelaskan dari peristiwa negative   dengan dasar 3 tipe atribusi berikut adalah orang yang  rentan terhadap depresi :

1.         factor-faktor internal yakni keyakinan bahwa kegagalan  merefleksikan ketidakmampuan pribadi, ddan bukan factor-faktor eksternal atau  keyakinan bahwa kegagalan disebabkan oleh factor-faktor lingkungan;
2.         factor global atau keyakinan bahwa kegagalan merefleksikan  seluruh kesalahan  dalam kepribadian bukan factor spesifik atau keyakinan bahwa keagalan merefleksikan area yang terbatas dari kemampuan berfungsi
3.         factor stabil akeyakinan bahwa gagal merefleksikan factor kepribadian yang menetap dan bukan factor yang tidak stabil atau keyakinan bahwa factor-faktor yang menyebabkan kegagalan dapat diubah!

Faktor Biologis
1. factor genetis
2. factor biokimia dan abnormalitas otak dalam depresi

Penanganan Gangguan Mood

1. Pendekatan psikodinamika
Psikoanalisis tradisional membantu orang depresi untuk  memeahami perasaan mereka yang ambivalen terhadap orang-orang (objek) penting dalam hidup mereka  yang telah hilang atau terancam hilang.  Dengan menggali perasaan marah terhdap objek yang hilang , mereka mengarahkan rasa marah keluar—melalui ekspresi verbal dari perasaan dan bukan membiarkannya menjadi lebih buruk  dan mengarah kedalam.

2. Pendekatan Behavioral
Terapi perilaku  bertujuan secara langsung memodifikasi  perilaku dan bukan  menumbuhkan kesadaran  kemungkinan penyebab yang tidak disadari dari perilaku-perilaku ini.


3. Pendekatan Kognitif
Aaron beck dan kolega-koleganya telah mengembangkan  pendekatan pengembangan multikomponen  disebut terapi kognitif  yang berfokus pada membantu orang depresi  menyadari dan mengubah pola pikir mereka yang disfungsional

4. Pendekatan Biologis
Pendekatan biologis umumnya menangani gangguan mood melibatkan penggunaan obat-obatan antidepresan dan terapi elektrokonvulsif untuk  depresi serta litium karbonat untuk  gangguan bipolar


Tips membantu menangani Mood
mengatasi gangguan  mood bisa di lihat pada situs ini :

penelusuran lebih lanjut :

Sumber
Nevid, Jeffery S, Spencer A ratuhus dan Beverly Greene. 2003. Psikologi abnormal. Jakarta : Erlangga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar